Senin, 28 November 2016

SISWA BERLITERASI DI SOSIAL MEDIA

Artikel Simposium GTK PENGEMBANGAN KEMAMPUAN LITERASI SISWA PADA MATA PELAJARAN BIOLOGI DENGAN IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BERMEDIA AUDIO VISUAL DARI YOUTUBE dan SOSIAL MEDIA DISUSUN OLEH: VANDI FERNANDEZZ,S.Pd I. Pengantar

Literasi dalam Kamus besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan tulis-menulis. Dalam konteks kekinian, literasi atau literer memiliki definisi dan makna yang sangat luas. Literasi bisa berarti melek teknologi, politik, berpikiran kritis dan peka terhadap lingkungan sekitar. Maka secara sederhana, budaya literasi dapat didefinisikan sebagai kemampuan menulis dan membaca masyarakat dalam suatu Negara. Kemampuan literasi siswa saat ini tidak hanya terbatas pada bahan bacaan cetakan seperti buku, lembar kerja siswa (student worksheet), modul dan lain sebagainya. Kehadiran buku sekolah elektronik (BSE) atau e book saat periode kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) memulai literasi merasuk ke dunia digital. Sejak itu literasi siswa terus berkembang baik secara off line juga secara on line. Perkembangan ini berangsur-angsur dapat mencabut pagar-pagar pembatas siswa dengan keterbatasan literature. Keberadaan media on line yang beranekaragam seperti youtube dan media sosial dapat direbut sisi positifnya. Semua generasi yang tinggal saat ini dapat menikmatinya.
Dari pengalaman sehari-hari dapat kita lihat baik siswa ataupun guru sebagai pendidik sering berinteraksi dengan internet. Bisa diyakini juga bagi masyarakat yang tinggal dikawasan yang masuk jaringan seluler akan mampu mengunjungi situs-situs tersebut setiap saat. Kaitan guru dengan siswa pada perkembangan era informasi ini menempati golongan yang berbeda dari aspek generasi. Pakar pendidikan Mark Prensky (2001) mengemukanan ada dua generasi yaitu digital native dan digital immigrants. Digital natives merupakan generasi yang lahir pada era digital, sedangkan digital immigrants adalah generasi yang lahir sebelum era digita tetapi kemudian tertarik, lalu mengadopsi hal baru dari teknologi tersebut. Boleh dikatakan civitas pendidikan saat ini dipenuhi oleh siswa sebagai digital native dan pendidik dari golongan digital immigrants. Pada artikel ini penulis menggagas suatu hubungan antara siswa dari generasi digital native dan pendidik dari golongan digital immigrants pada pembelajaran Biologi di sekolah menengah atas dengan memanfaatkan kemajuan media berbasis audio visual dan sosila media.
II. Masalah
Membaca dan menulis belum mengakar kuat dalam budaya bangsa kita. Masyarakat lebih sering menonton atau mendengar dibandingkan membaca apalagi menulis. Kondisi di atas tidak hanya pada kalangan awam (masyarakat umum), lingkungan terpelajar atau dunia pendidikan pun masih jauh dari apa yang disebut budaya literasi. Peserta didik belum tertanam kecintaan membaca. Bahkan tak sedikit dari para guru yang juga sama keadaanya. Itu bisa dibuktikan dengan minimnya jumlah buku yang dimiliki mereka. Sebab itu, di awal tahun pelajaran 2015-2016 yang lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melalui Permendikbud nomor 23 tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, salah satu poinnya mewajibkan para siswa untuk membaca buku 10 – 15 menit sebelum jam belajar dimulai.
Bertolak belakang dengan kemampuan literasi yang berhubungan dengan bacaan buku cetak yang rendah, kehidupan siswa SMA saat ini yang berusia 15-19 tahun mengumpulkan mereka dalam era perkembangan budaya yang sama atau disebut pada generasi digital native. Era kehidupan yang ditandai kemajuan teknologi dan informasi menimbulkan kegerahan dari orang tua dan guru atas anak yang sedikit sekali bercengkerama dengan kegiatan belajar. Terutama membaca dan menulis, siswa sering hadir ke kelas dengan dada dan kepala yang kosong atau tanpa membaca. Imbasnya, interaksi belajar tidak begitu terwujud dengan adanya feedback dan siswa keluar dari kelas dengan minim serapan.
Berkaitan dalam hal menulis, siswa lebih sering berinteraksi dengan media sosial sesuai dengan kesenangan masing-masing. Intensitas mereka menulis sangat tinggi dibandingkan dengan generasi sebelum digital native (yang lahir sebelum tahun 90 an). Hanya saja, hal yang mereka tulis tidak lain hanyalah luapan perasaan sendiri atau komentar terhadap luapan hati orang lain pada media sosial. Status dan komentar yang ditulis di media sosial sering tidak terkontrol dan kerap menimbulkan perselishan dan masalah tertentu Menurut penelitian Yayasan Pengembangan Media Anak di Jakarta dan Bandung dalam Muzayyad (2011) menjelaskan betapa mudahnya anak-anak bersentuhan dengan televisi. Sebuah penelitian menunjukkan rata-rata anak-anak Indonesia menonton televisi sekitar 4 sampai 6 jam dalam sehari. Boleh juga itu disebut sebagai porsi umum dengan media yang berbeda-beda. Ada yang dalam jangka waktu tersebut hanya bersentuhan dengan televisi, ada yang berselancar di media sosial, ada juga yang terhanyut dalam petualangan game on line. Kebiasaan ini mewarnai siswa dengan sikap negatif yang popular disebut “lebay atau alay” dalam bahasa pergaulan mereka. Aspek negative dari kebiasaan siswa ini pun menggerogoti waktu mereka dalam mengembangkan literasi untuk kebutuhan belajar. Selanjutnya harga literatur berbahan cetak atau kertas makin lama makin tinggi baik dalam hal operasional, produksi juga harga beli yang harus dikeluarkan oleh orang tua siswa.
Untuk mata pelajaran biologi, buku yang digunakan siswa saat ini dapa dipakai pada beberapa sumber yang berbeda. Setiap sumber memiliki beberapa perbedaan dalam mengambil sumber, gambar, evaluasi, contoh individu dan penjelasan materinya. Setiap sumber ada lebih dan kurangnya. Siswa yang memiliki buku yang banyak akan lebih mampu dalam hal literasi daripada siswa yang bukunya hanya satu. Penjelasan konsep biologi pada beberapa materi seperti sistem peredaran darah, sistem rangka, sistem immunitas dan lain sebagainya tidak bisa dipraktekkan secara langsung. Hal tersebut perlu diwakilkan dengan tayang media audio visual. Jika dibatasi pembelajaran dari buku cetak saja tidak menyanggupi kebutuhan menjelaskan materi tersebut. Bisa saja siswa memiliki penafsiran yang berbeda saat dijelaskan oleh guru atau saat membaca buku saja. Saat ini pembelajaran berbasis media audio visual sudah dimulai sejak adanya projector yang bisa memproyeksikan tayangan dengan tajam. Setiap bahan yang akan ditampilkan dari laptop dapat ditangkap oleh layar dengan sangat baik. Namun, sumber belajar yang dimiliki juga masih sangat terbatas.
Walaupun banyak penelitian pengembangan beberapa media audio visual dengan tingkat validitas, reliabilitas dan efektitivitas yang baik, penyebaran hasil karya tersebut belum terpublikasi sebagaimana mestinya. Ada CD pembelajaran yang tersebar bagi sekolah-sekolah yang beruntung namun dalam hal kelengkapan materi tidak terlalu berbeda dengan buku cetak, bahkan materinya lebih ringkas dari media cetak. Seiring perkembangan kurikulum, materi ajar yang berkaitan juga mengikuti dinamika keilmuan sains yang makin hari makin berkembang. Umumnya siswa Indonesia untuk bersaing dalam kompetisi seperti olimpiade biologi cenderung dekat dengan referensi berbahasa asing. Dapat diasumsikan referensi tersebut bukanlah karangan pengarang buku-buku cetak di dalam negeri. Media di youtube juga banyak yang dari bahasa asing, kalaupun ada beberapa dengan bahasa Indonesia, pengembangan materinya juga tidak sebaik yang berbahasa Inggris.
III. Pembahasan dan Solusi
Melihat tingkat literasi siswa yang rendah dalam interaksi dengan buku cetak dan sebaliknya intensitasnya yang tinggi berbaur dengan media sosial dan media audio visual, oleh karena itu, para stakeholder pendidikan perlu mengimbangi perkembangan zaman ini dengan mengadaptasikan pendidikan dan membangun literasi masuk ke zona teknologi informasi digital. Penggunaan ide literasi visual dan strategi untuk meningkatkan pembelajaran verbal adalah penting (Sinatra, 1986). Hal tersebut dikarenakan literasi visual yang mendahului literasi verbal dalam pembangunan manusia, keaksaraan dasar dalam proses berpikir yang merupakan dasar untuk membaca dan menulis. Berger (1972) menjelaskan, "Melihat datang sebelum kata-kata. Anak terlihat dan mengakui sebelum dapat berbicara ". Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa peran visual sangat bermanfaat dalam meningkatkan pembelajaran. Khususnya dalam pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang memanfaatkan komputer sebagai media dan materi pembelajaran dimana bahan ajarannya menggunakan gambar, ikon-ikon, simbol sebagai antarmuka dengan penggunanya. Namun dalam pemanfaatannya dibutuhkan media yang mendukung dan dapat dimaksimalkan oleh tenaga pengajar dan siswa.
3.1 Literasi melalui pengembangan pembelajaran berbasis audio visual di kelas Biologi. Pokok bahasan atau materi ajar yang tersaji dalam mata pelajaran biologi banyak menerapkan konsep secara abstrak. Artinya tidak bisa dipraktekkan atau didemonstrasikan dengan sampel dari objek yang berkaitan. Apalagi tentang sistem-sistem organ yang banyak tersaji di kelas XI program IPA pada kurikulum tingkat satuan pendidikan dan XI MIPA/MIA pada kurikulum 2013. Banyak konsep yang dapat diwakilkan dengan media berbasis audiovisual.
Pelaksanaan pembelajaran berbasis audiovisul didasari oleh tuntutan kemampuan pembelajaran abad 21 di menurut Nurmalita (2016) “Pembelajaran sains diharapkan dapat menghantarkan peserta didik memenuhi tuntutan kemampuan abad 21. Berikut kemampuan pembelajaran sains yang diperlukan pada abad 21, yaitu: 1) keterampilan belajar dan berinovasi yang meliputi berpikir kritis dan mampu menyelesaikan masalah, kreatif dan inovatif, serta mampu berkomunikasi dan berkolaborasi; 2) terampil untuk menggunakan media, teknologi, informasi dan komunikasi (TIK); 3) kemampuan untuk menjalani kehidupan dan karir, meliputi kemampuan beradaptasi, luwes, berinisiatif, mampu mengembangkan diri, memiliki kemampuan sosial dan budaya, produktif, dapat dipercaya, memiliki jiwa kepemimpinan, dan tanggung jawab”. Menurut Ariani dan Hariyanto (2010:5), 8,3 persen sekolah di Indonesia terjalin dengan internet.
Di dunia pendidikan sekarang tidak asing lagi mendengar sekolah dengan fasilitas multimedia. Multimedia sebagai sarana pendidikan memilki setidaknya dua pengertian yakni gabungan dari berbagai media (bahan cetak/teks, audio, video, slide, siaran radio, siaran televisi) yang masing-masing berdiri sendiri namiun terprogram dalam computer multimedia. Visualisasi adalah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengkonkretkan suatu yang abstrak. Gambar dua dimensi atau model tiga dimensi adalah visualisasi menjdai pendekatan yang amat berguna dilakukan dalam kebutuhan belajar. Berdasarkan pendapat diatas sekolah yang sudah tersambung internet pada tahun 2010 saja sudah 8,3%. Dengan meningkatnya layanan operator seluler di Indonesia sudah ada operator yang jangkauannya sampai ke daerah termasuk untuk mengakomodir kebutuhan internet masyarakat. Dengan demikian saat ini siswa dan guru sebagai bagian dari masyarakat dapat mengakses internet untuk kebutuhan literasi. Pembelajaran berbasis audiovisual dapat dipadukan dengan berbagai model pembelajaran. Siswa diinstruksikan untuk menggali sumber belajar audiovisual kemudian mempersiapkan presentasi pada pertemuan yang akan datang.
Berkaitan dengan sumber belajar audiovisual yang dipakai dapat menggali dari sumber yang berasal dari youtube. Siswa dan atau guru mengunduhnya dengan aplikasi unduhan yang sesuai. Setelah video diunduh jika berbahasa Indonesia dapat digunakan langsung dengan pengeras suara. Siswa sebaiknya tidak membiarkan video tersebut berjalan tanpa dipelajari fragmen per fragmen (potongan per potongan). Hal tersebut diperlukan sebab bisa saja ada bahasan yang tidak cocok dengan materi yang sedang dipelajari. Jika video yang berbahasa Indonesia kurang mencukupi kebutuhan materi ajar, sumber belajar dapat diakses dari media youtube berbahasa Inggris. Terdapat banyak situs yang sesuai dengan materi biologi yang diajarkan pada siswa sekolah menengah atas di Indonesia seperti (Mc Grawhill, Nucleus Medical, Virtual Cell dan lain sebagainya). Situs tersebut biasanya dibahasakan secara verbal dan ada tertulis dibawah setiap fragmentnya. Jika kemampuan bahasa inggris siswa baik dapat menterjemah langsung, jika kurang bagus dapat ditransliterasikan ke dalam bahasa Indonesia melalui google translate, jika tidak bisa sama sekali video bisa didiskusikan bersama di kelas. Video yang boleh diputar di kelas harus memenuhi unsur kepatutan, kepantasan dan memenuhi unsur etika. Saat siswa mendapati video dan menggali materinya maka dengan tidak diinstruksikan secara langsung siswa akan mulai melakukan literasi dari materi. Jika siswa melakukan literasi terhadap materi dari video mereka masing-masing maka mereka akan mampu menjelaskan materi tersebut dengan tepat. Andai saja kurang tepat, maka guru yang membimbing kelas tersebut akan mampu memberikan penguatan terhadap konsep tersebut.
Guru sebaiknya juga berusaha meningkatkan usaha literasinya. Memang pembelajaran berpusat pada siswa, akan tetapi siswa tanpa guru akan rentan miskonsepsi sebab terjemahan bahasa latin ataupun bahasa Inggris bisa saja salah arti. Saat siswa mempresentasikan materinya dan siswa lain memperhatikan presentasi saat itu juga sedang berlangsung proses literasi. Menurut Bruner (1966) berpendapat bahwa siswa belajar melalui tiga tahapan yaitu enaktif, ikonik, dan simbolik. Tahap enaktif yaitu tahap dimana siswa belajar dengan memanipulasi benda-benda konkrit. Tahap ikonik yaitu suatu tahap dimana siswa belajar dengan menggunakan gambar atau videotapes. Sementara tahap simbolik yaitu tahap dimana siswa belajar dengan menggunakan simbol-simbol. Dengan demikian dapat diartikan pembelajaran audiovisual ini merupkan tahapan pembelajaran ikonik. Menurut Mansyur et al (2016) Materi pembelajaran dalam bentuk visual sangat berperan penting dalam upaya meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam proses belajar mengajar. Dengan sajian visual yang beragam yang ditampilkan oleh guru di depan kelas, siswa dapat meningkatkan kemampuannya dengan menggunakan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dalam mempelajari pengetahuan baru yang disajikan oleh guru di hadapan kelas.
Kemampuan siswa dalam pembelajaran teknolgi infromasi dan komunikasi dapat dilihat dari 3 (tiga aspek) yaitu aspek kognitif, afektif, dan psikomotor siswa. Dengan kemampuan literasi media visual siswa yang baik dapat berpengaruh dalam proses pembelajaran teknologi informasi dan komunikasi dalam pencapaian tujuan pembelajaran.
3.2 Literasi bersama sosial media
Sosial media merupakan sebuah media yang digunakan untuk berinteraksi dan bersosialisasi satu sama lain tanpa dibatasi ruang dan waktu. Tidak hanya digunakan untuk media komunikasi, media sosial dapat berfungsi sebagai media yang memfasilitasi orang dalam forum diskusi/obrolan, berbagi berbagai file (video, musik ataupun gambar), mengemukakan pendapat terhadap pelbagai peristiwa, sarana berdagang, saran menemukan pertemanan dan berbagai kegunaan lainnya (Novia, 2014). Berdasarkan data di Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkominfo) (2013:1) dalam Juwita et al (2016:2) dapat diketahui bahwa “Indonesia saat ini mencapai 63 Juta orang. Dari angka tersebut, 95%nya menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial”. Memasuki era globalisasi, remaja merupakan kalangan yang sering menggunakan media internet khususnya meda sosial sebagai sarana untuk mencari informasi, hiburan maupun berkomunikasi dengan teman di situs jejaring sosil. Berdasarkan Depkominfo (2012:1) dalam Juwita et al (2016:2) semakin banyak pengguna internet merupakan anak muda. Mulai dari usia 15-20 tahun dan 10-14 tahun meningkat signifikan.
Perkembangan sosial media saat ini sangat beragam. Sebut saja Facebook, twitter, Instagram, Line, Whats APP, Path, Myspace, Weibo, Youtube dan lain sebagainya. Sosial media sangat akrab dikalangan generasi digital native dan digital immigrant. Siswa sebagai bagian dari generasi digital native sangat banyak bergabung dalam sosial media dengan akun masing-masing. Ada yang satu, dua, bahkan seluruh media sosial ada juga yang mempunyai segala akunnya. Mengingat tingginya intensitas interaksi siswa sebagai bagian dari generasi digital native diperlukan juga keterlibatan guru sebagai bagian dari generasi digital immigrant melakukan interaksi bersama siswanya dalam bentuk grup diskusi di media sosial.
Untuk mata pelajaran Biologi ada grup di media sosial Facebook bernama “Diskusi OSN Biologi” yang saat ini cukup menjadi viral dalam pembelajaran biologi khususnya di SMA. Penulis merupakan Admin yang mendirikan grup tersebut. Sejak didirikan tanggal 29 Mei 2013 grup ini sudah berkembang dengan pesat hampir 10.000 akun sudah bergabung. Grup FB ini semakin matang dengan turut aktifnya pembimbing sekaligus juri olimpiade biologi Indonesia dan tim nasional olimpiade biologi Indonesia (TOBI) baik yang masih aktif atau pun yang sudah menjadi alumni. Mereka banyak berpartisipasi aktiv memberikan pencerahan terhadap konsep-konsep yang tidak terjamah oleh pembelajaran biologi biasa di SMA. Dari contoh tersebut dapat dikembangkan daya jelajah literasi berbasis sosial media. Dengan sosial media siswa mampu berinteraksi dengan siswa-siswi lain di tanah air, bukan hanya itu juga dengan guru, tim olimpiade dan dosen yang bisa berbagi ilmu. Kegiatan ini lebih dari sekedar membaca dan menulis. Aktivitas ini mampu menggali literasi tingkat tinggi. Ilmu yang dibagi tidak hanya berupa forum diskusi yang didampingi para pakar tapi juga tukar menukar soal, bagi-bagi situs biologi, e book, informasi lomba, pertemanan dan lain sebagainya. Yang terpenting bahwa literasi melalui sosial media ini mampu mengambil alih kegiatan negatif menjadi kegiatan yang justru bermuatan positif bagi mata pelajaran biologi khususnya. Siswa lebih terbantu karena pembelajaran dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja. Menurut Ariani dan Harianto (2010:149) Chat atau diskusi merupakan aktivitas yang makin banyak digunakan oleh pengajar. Model pembelajaran ini menuntut siswa atau peserta didik untuk aktif di kelas. Fasilitas chat on-line sangat popular akhir-akhir ini. Popularitas ini, sangat menarik untuk direspon oleh kalangan pendidikan . pemanfaatan fasilitas on-line dalam bidang pendidikan dapat melatih praktik lisan maupun tertulis. Berdasarkan pendapat tersebut kembali kita dapat menilai bahwa pembelajaran dengan sosial media dapat dijadikan salah satu alternatif literasi.
Cara siswa belajar dengan menggunakan diskusi on-line melalui sosial media telah dianalogikan dalam program guru pembelajar model dalam jaringan (mode daring). Bedanya dengan pembahasan artikel ini adalah mode daring pada guru pembelajar ditujukan untuk guru tertentu berdasarkan rapor nilai uji kompetensi guru yang telah didapatkan. Model diskusi sosial media yang dibahas dalam artikel ini digunakan untuk memperluas interaksi antara siswa dengan sumber belajar yang lain.
IV. Kesimpulan dan Harapan
Berdasarkan pengantar, masalah, dan pembahasan dan solusi dapat ditarik kesimpulan atara lain:
1. Siswa sekolah menengah saat ini merupakan generasi digital native yang sejak lahir sudah berada di era digital.
2. Guru merupakan generasi digital immigrant yang lahir sebelum era digital tapi masuk mengikuti generasi digital.
3. Kemajuan teknologi informasi membuat siswa sering berpapasan dengan internet dan media sosial. Hal ini dapat dimanfaatkan secara positif untuk mengembangkan literasi melalui penjelajahan youtube dan jejaring sosial.
4. Pembelajaran audiovisual dan media sosial dapat menjadi alternatif bagi siswa memperluas kemampuan literasi.
5. Literasi pembelajaran audiovisual dan media sosial mengalihkan pengaruh negatif internet kepada hal yang positif bagi perkembangan belajar siswa.

Harapan penulis melalui artikel ini antara lain:
1. Menjadikan grup facebook “Diskusi OSN Biologi” menjadi grup yang direkomendasikan untuk membantu siswa belajar Biologi.
2. Pemerintah melalui kementerian pendidikan dan Dinas Pendidikan membantu untuk membuat terjemahan dari video dari youtube yang berbahasa asing sehingga siswa lebih mudah mempelajarinya.
3. Menerbitkan literasi yang standar bagi pembelajaran biologi di SMA sebagai rujukan utama menghadapi ujian nasional bahkan seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN)

DAFTAR PUSTAKA
Ariani dan Haryanto (2010). Pembelajaran Multimedia di Sekolah. Jakarta: PT. Prestasi Pustakaraya

Berger, John (1972). Ways of Seeing. London: British Broadcasting Corporation and Penguin Books
Bruner, Jerome.S. (1966). Toward a theory of Instruction. Cambridge: Harvard University.

Juwita et al (2016). Peran Media Sosial terhadap gaya hidup siswa SMA Negeri 5 Bandung. Jurnal Sosietas, Vol 5, No. 1. Diakses melalui internet dengan alamat http://ejournal.upi.edu pada hari jum’at 18 November 2016 pukul 18.30 Wib.
Mansyur et al (2016) Kemampuan Literasi Media Visual Siswa Dan Keberhasilan Pembelajaran Teknologi Informasi Dan Komunikasi (TIK) Di Smp Negeri 11 Parepare. Artikel ilmiah. Makasar : FISIP UNHAS
Muzayyad, Idy (2011). Literasi Media Mulai dari Kita. Panduan Sosialisasi Literasi Media Televisi / pegangan untuk narasumber. Jakarta: Komisi Penyiaran Pusat. KPI.

Novia (2014). Dampak Penggunaan Sosial Media Terhadap Murid SMA Santa Angela kelas X_IBA. Laporan ilmiah. Bandung: SMA Santa Agela

Nurmalita (2016). Peningkatan Kemampuan Literasi Sains Siswa Kelas Xi Ipa Sma Negeri 1 Tanah Jawa Dengan Menerapkan Konsep Teori Muatan Kognitif. Simalungun : Naskah Lomba Inovasi Pembelajaran Guru Pendidikan Menengah Tingkat Nasional Tahun 2016.

Prensky M. (2001) Digital Natives, Digital Immigrant. On the Horizon. (MCB University Press) Vol.9(5).

Sinatra, R. (1986). Visual literacy connections to thinking, reading and writing. Springfield, IL: Charles C. Thomas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar